
(Oleh: Fr. Stefanus Damai, CMM., S.E., M.Pd.)
Belajar dari Pucuk Merah
Alam adalah sekolah terbesar yang memberikan banyak pelajaran berharga untuk kehidupan manusia. Dari alam kita bisa belajar tentang arti memberi tanpa mengharapkan balasan; tentang arti berkorban tanpa harus menjerit kesakitan walaupun sesungguhnya sakit. Lihat saja pohon-pohon di sekitar kita. Mereka memberikan kesejukan dan berbagai manfaat lainya untuk kehidupan manusia. Mereka “mati” agar manusia mempunyai harapan untuk selalu hidup.
Manusia pada prinsipnya membutuhkan alam untuk dapat beraktifitas dalam memertahankan hidupnya. Oleh karena itu adalah pantas manusia wajib memelihara alam dengan baik dan benar. Tidak berperilaku sewenang-wenang terhadap alam. Manusia harus mempunyai kasih yang tulus untuk bisa hidup berdampingan dengan alam. Berkaitan dengan hal ini, saya mempunyai “kisah cinta” dengan si pucuk merah di taman sekolah, seperti di bawah ini.
Di taman sekolah, saya menanam beberapa pohon bunga pucuk merah. Dalam perjalanan waktu beberapa pucuk merah tumbuh dengan baik namun ada 3 pohon yang mengalami gangguan dalam pertumbuhannya karena hama. Agar dapat bertumbuh dgn baik, saya pun memangkas daun dan ranting-rantingnya hingga tersisah batangnya saja. Beberapa bulan kemudian keajaiban datang: pucuk merah yang sebelumnya hampir mati, kini tumbuh dan berdaun lebat.
Hidup kita juga kadang seperti pucuk merah di taman sekolah itu. Karena berbagai persoalan hidup maka kita mengalami kesulitan untuk bertumbuh sebagai pribadi yg bernas dan berbuahkan hal-hal positif. Kita harus memangkas dan memotong "ranting-ranting" kesombongan dan "daun-daun" keangkuhan, kedengkian, iri hati dan karakter negatif lainnya." Percayalah, bila itu yang dilakukan, cepat atau lambat maka keajaiban pemulihan akan segera menghampiri kita.
Lihatlah dan belajarlah dari alam. Mereka memberi atau berkorban dengan ikhlas tanpa harus mengeluh walaupun manusia sering bertindak kasar dan brutal terhadap mereka. Dengan sifat alaminya, alam tetap berperilaku kasih terhadap manusia dengan tiada hentinya tumbuh menghasilkan buah-buah untuk dimakan. Terus menancapkan akarnya ke dalam tanah agar tetap bertahan hidup bagi kebaikan manusia.
Belajar dari alam, kita juga bisa melakukan hal-hal baik dalam hidup, apabila hati kita dipenuhi keiklasan dan keterbukaan. Keikhlasan berarti hidup kita dilingkupi sebuah ketulusan hati dan kejujuran serta kerelaan. Tanpa ada ketulusan maka apapun yang kita buat untuk orang lain, dampaknya tidak berkesan dan menghidupkan. Jujurlah dalam hidup karena dengannya kita menumbuhkan semangat menghargai hak hidup orang lain yang “terdampar” dalam diri kita. Ingatlah bahwa sebagian hidup orang lain terhubung dengan sikap dan perilaku hidup kita.
Keikhlasan, keterbukaan dan kejujuran adalah “tiga saudara kembar kehidupan” yang mengajari dan mendampingi manusia agar bisa bersikap harmonis dengan alam. Ketika kita bisa bersikap harmonis dengan alam maka kebutuhan akan makan dan minum selalu terpenuhi. Jaga harmonimu dengan sesama karena itu akan menciptakan seni hidup yang sangat mengagumkan. Buang keangkuhan dan kesombonganmu agar tumbuhlah tunas-tunas kasih yang menyegarkan dan menghidupkan. (SDM010322)